Kamis, 09 Juni 2011

GANGGUAN BIPOLAR


GANGGUAN BIPOLAR

. PEMBAHASAN
A.   Definisi
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi.
Gangguan bipolar mendasari satu spektrum kutub dari gangguan mood/suasana perasaan meliputi :
1. Bipolar I (BP I)
2. Bipolar II (BP II)
3. Siklotimia (periode manic dan depresif yang bergantian/naik-turun)
4. depresi yang hebat
Sedangkan berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, gangguan ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan serta peningkatan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi).
Gejala yang khas adalah terdapat penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental lain.
B.   Etiologi
Etiologi dari gangguan bipolar memang belum dapat diketahui secara pasti, dan tidak ada penanda biologis (biological marker) yang objektif yang berhubungan secara pasti dengan keadaan penyakit ini, tetapi diduga berkaitan dengan virus yang menyerang otak. Serangan virus berlangsung semasa janin dalam kandungan atau di tahun pertama sesudah lahir. Namun, baru 15-20 tahun kemudian mewujud menjadi bipolar. Itu karena pada usia 15 tahun kelenjar timus dan pinealis yang mengeluarkan hormon yang dapat mencegah gangguan psikiatrik hebat sudah berkurang menjadi 50 persen.
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan 21q22. Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21) berisiko rendah menderita gangguan bipolar.
Tetapi penyebab dari gangguan bipolar ini dapat dikatakan multifaktor Mencakup aspek biopsikososial. Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang menyakitkan, stres kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.
Jika benar penyabab utamanya faktor sosial, stres akibat beratnya kehidupan yang berkepanjangan, bisa jadi banyak penderita Bipolar di lingkungan kita.
Meskipun belum ada survei valid, namun faktanya penderita ganggunan jiwa, depresi, kasus bunuh diri terus saja bertambah. Karena itu mereka yang bunuh diri itu kebanyakan masuk kategori ganggunan kejiwaan mana belum diketahui. Kurangnya pemahaman masyarakat akan kesehatan jiwa dan stigma terhadap penderitanya, menurut Sasanto menyebabkan sikap dan perilaku yang keliru terhadap penderitanya yang mestinya ditolong. Pada saat penderita bipolar sedang depresi, misalnya, kerap dicap sebagai orang yang tidak kuat mentel, lemah iman, tidak tawakal, dan sebagainya.
C.   Faktor Resiko
1.    Ras
Tidak ada kelompok ras tertentu yang memiliki predileksi kecenderungan terjadinya gangguan ini. Namun, berdasarkan sejarah kejadian yang ada, para klinisi menyatakan bahwa kecenderungan tersering dari gangguan ini terjadi pada populasi Afrika-Amerika.
2.    Jenis Kelamin
Angka kejadian dari BP I, sama pada kedua jenis kelamin, namun rapid-cycling bipolar disorder (gangguan bipolar dengan 4 atau lebih episode dalam setahun) lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Insiden BP II lebih tinggi pada wanita daripada pria.
3.    Usia
Usia individu yang mengalami gangguan bipolar ini bervariasi cukup besar. Rentang usia dari keduanya, BP I dan BP II adalah antara anak-anak hingga 50 tahun, dengan perkiraan rata-rata usia 21 tahun. Kasus ini terbanyak pada usia 15 – 19 tahun, dan rentang usia terbanyak kedua adalah pada usia 20 – 24 tahun. Sebagian penderita yang didiagnosa dengan depresi hebat berulang mungkin saja juga mengalami gangguan bipolar dan baru berkembang mengalami episode manic yang pertama saat usia mereka lebih dari 50 tahun. Mereka mungkin memiliki riwayat keluarga yang juga menderita gangguan bipolar. Sebagian besar penderita dengan onset manic pada usia lebih dari 50 tahun harus dilakukan penelusuran terhadap adanya gangguan neurologis seperti penyakit serebrovaskular. Gangguan bipolar juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi genetik, biokimiawi, psikodinamik dan lingkungan.

4.    Genetik
Gangguan bipolar, terutama BP I, memiliki komponen genetik utama. Bukti yang mengindikasikan adanya peran dari faktor genetik dari gangguan bipolar terdapat beberapa bentuk, antara lain :
Hubungan keluarga inti dengan orang yang menderita BP I diperkirakan 7 kali lebih sering mengalami BP I dibandingkan populasi umum. Perlu digaris-bawahi, keturunan dari orang tua yang menderita gangguan bipolar memiliki kemungkinan 50 % menderita gangguan psikiatrik lain. Penelitian pada orang yang kembar menunjukkan hubungan 33 – 90 % menderita BP I dari saudara kembar yang identik.
Penelitian pada keluarga adopsi, membuktikan bahwa lingkungan umum bukanlah satu-satunya faktor yang membuat gangguan bipolar terjadi dalam keluarga. Anak dengan hubungan biologis pada orang tua yang menderita BP I atau gangguan depresif hebat memiliki resiko yang lebih tinggi dari perkembangan gangguan afektif, bahkan meskipun mereka bertempat tinggal dan dibesarkan oleh orang tua yang mengadopsi dan tidak menderita gangguan.
Cardno dan kawan-kawan di London menunjukkan bahwa skizofrenia, skizoafektif, dan sindrom manic berbagi faktor resiko genetik dan genetik yang bertanggung jawab terhadap gangguan skizoafektif seluruhnya secara umum juga terdapat pada dua sindrom yang lain tadi. Penemuan ini menimbulkan dugaan suatu genetik tersendiri bertanggungjawab pada psikosis berbagi dengan gangguan mood dan skizofrenia. Tsuang dan kawan-kawan mengindikasikan adanya kontribusi genetik pada MDI dengan gambaran psikotik, serta menunjukkan adanya hubungan antara skizofrenia dan gangguan bipolar.
Studi tentang ekspresi gen juga menunjukkan orang dengan gangguan bipolar, depresif berat, dan skizofrenia mengalami penurunan yang sama dalam ekspresi dari gen hubungan oligodendrosit-myelin dan abnormalitas substansia nigra pada bermacam daerah otak.
Sebuah penelitian terbaru menyimpulkan, saat orangtua memiliki kelainan bipolar, maka anak-anak mereka berisiko terkena kelainan kejiwaan juga. Dr Boris Birmaher dan rekan-rekannya dari University of Pittsburgh Medical Center yang menuliskan laporan ini dalam Archives of General Psychiatry. Mereka mengungkapkan, hasil penelitiannya sebagai indikasi perlunya identifikasi dan perawatan dini bagi anak-anak yang orangtuanya mengalami gangguan bipolar.
Hasil penelitian dari The Pittsburgh Bipolar Offspring Study diujicobakan pada 388 anak dari 233 orangtua yang memiliki kelainan bipolar. Sementara itu, 251 anak lainnya dari 143 orangtua yang tidak memiliki kelainan bipolar. Hasilnya menunjukkan bahwa anak dengan orangtua yang memiliki kelainan bipolar berisiko 13 kali lebih besar terkena penyakit yang sama seperti orangtua mereka dibandingkan anak yang orangtuanya tidak memiliki kelainan bipolar. Secara bersamaan, memiliki ayah-bunda dengan kelainan bipolar menghalangi anak untuk memiliki kelainan suasana hati lima kali lipat lebih besar.
5.    Biokimiawi
Multipel jalur biokimiawi mungkin berperan pada gangguan bipolar, hal ini yang menyebabkan sulitnya mendeteksi suatu abnormalitas tertentu.Beberapa neurotransmitter berhubungan dengan gangguan ini, sebagian besar didasrkan pada respon pasien terhadap agen-agen psikoaktif.
Sejumlah bukti menunjukkan bahwa terdapat kaitan antara glutamat dengan gangguan bipolar dan depresi berat. Studi postmortem dari lobus frontal dengan kedua gangguan menunjukkan peningkatan level glutamat.
Obat tekanan darah reserpin, yang menghabiskan/mendeplesikan katekolamin pada saraf terminal telah tercatat menyebabkan depresi. Ini berpedoman pada hipotesis katekolamin yang berpegang pada peningkatan epinefrin dan norepinefrin menyebabkan manic dan penurunan epinefrin dan norepinefrin menyebabkan depresi.
Obat-obatan seperti kokain, yang juga bekerja pada sistem neurotransmitter ini mengeksaserbasi terjadinya manic. Agen lain yang dapat mengeksaserbasi manic termasuk L-dopa, yang menginhibisi reuptake dopamin dan serotonin.
Gangguan dan ketidakseimbangan hormonal dari aksis hipotalamus-pituitari-adrenal, menggangu homeostasis dan menimbulkan respon stres yang juga berperan pada gambaran klinis gangguan bipolar. Antidepresan trisiklik dapat memicu terjadinya manik.
6.    Psikodinamik
Banyak praktisi melihat dinamika MDI sebagai suatu hal yang berhubungan melalui suatu jalur. Mereka melihat depresi sebagai manifestasi dari suatu kehilangan, contohnya hilangnya pegertian terhadap diri dan adanya perasaan harga diri rendah. Oleh karena itu, manik timbul sebagai mekanisme defens dalam melawan rasa depresi (Melanie Klein)
7.    Lingkungan
Pada beberapa kejadian, suatu siklus hidup mungkin berkaitan langsung dengan stres eksternal atau tekanan eksternal yang dapat memperburuk berulangnya gangguan pada beberapa kasus yang memang sudah memiliki predisposisi genetik atau biokimiawi.
Kehamilan merupakan stres tertentu bagi wanita dengan riwayat MDI dan meningkatkan kemungkinan psikosis postpartum. Contoh lain, oleh karena sifat pekerjaan, beberapa orang memiliki periode permintaan yang tinggi diikuti periode kebutuhan yang sedikit. Hal ini didapati pada seorang petani, dimana ia akan sangat sibuk pada musim semi, panas, dan gugur, namun selama musim dingin akan relatif inaktif kecuali membersihkan salju, sehingga ia akan tampak manic pada hampir sepanjang tahun dan tenang selama musim dingin. Hal ini menunjukkan lingkungan juga dapat berpengaruh terhadap keadaan psikiatri seseorang.
D.   Klasifikasi
1)    F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
Untuk menegakkan diagnosis pasti :
•Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania
•Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomania, manik, depresif atau campuran) di masa lampau

2)    F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti :
•Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala psikotik
•Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomania, manik, depresif atau campuran) di masa lampau

3)    F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti :
•Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala psikotik
•Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomania, manik, depresif atau campuran) di masa lampau

4)    F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang
.30 tanpa gejala sometik
.31 dengan gejala somatik
Untuk menegakkan diagnosis pasti :
•Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk depresif ringan atau sedang
•Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomania, manik, depresif atau campuran) di masa lampau

5)    F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti :
•Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk depresif berat tanpa gejala psikotik
•Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomania, manik, depresif atau campuran) di masa lampau

6)    F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti :
•Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk depresif berat dengan gejala psikotik
•Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomania, manik, depresif atau campuran) di masa lampau

7)    F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
Untuk menegakkan diagnosis pasti :
•Episode yang sekarang menunjukan gejala-gejala manik, hipomanik dan depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala mania/hipomania dan depresif sama-sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu)
•Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomania, manik, depresif atau campuran) di masa lampau

8)    F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran di masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomania, manik, depresif atau campuran)

9)    F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya

10)  10. F31.9 Gangguan afektif bipolar YTT

E.   Tanda dan Gejala
Diagnosis dari BP I ditegakkan dengan setidaknya terdapat episode manic paling tidak dengan durasi 1 minggu yang mengindikasikan penderita untuk dirawat inap atau kelainan lain yang signifikan dalam fungsi okupasi dan sosial. Episode manic bukan disebabkan oleh penyakit medis lain atau penyalahgunaan zat. Kriteria ini berdasarkan spesifikasi dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR).
Ä Episode manic ditandai oleh gejala-gejala berikut ini :
Setidaknya terdapat 1 minggu gangguan mood yang dalam, yang ditandai dengan suasana perasaan yang meningkat (elasi), mudah marah (iritabel), atau adanya keinginan untuk keluar rumah.
Ä Gejala lain yang menyertai antara lain (paling tidak 3 atau lebih): Perasaan kebesaran; gangguan tidur; nada suara yang tinggi dan bicara berlebihan; flight of ideas; menghilangkan bukti kekacauan pikiran; meningkatnya tingkat fokus kerja di rumah, tempat kerja atau seksual; meningkatnya aktivitas yang menyenangkan dan bahkan yang memiliki konsekuensi menyakitkan.
Ä Gangguan mood cukup untuk membuat kerusakan di tempat kerja, membahayakan pasien atau orang lain.
Ä Gangguan suasana perasaan tersebut bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau karena gangguan medis lain.
Ä Gejala lain seperti :
- aktivitas meningkat, ekspansif
- mudah tersinggung
- hiperaktivitas
- berbicara sangat cepat
- ide meloncat-loncat
- kebutuhan tidur berkurang
- harga diri berlebihan
- perhatian mudah teralihkan
- memiliki pertimbangan buruk dan suasana hati yang tidak aman
- sikap berlebihan (misalnya gila belanja dan seks tidak aman).
Episode hipomanik ditandai oleh gejala-gejala berikut :
Ä Penderita mengalami suasana perasaan yang meningkat (elasi), adanya keinginan untuk keluar rumah, atau mudah marah (iritabel) setidaknya selama 4 hari.
Ä Paling tidak terdapat 3 atau lebih gejala-gejala berikut ini : Perasaan kebesaran atau mengagumi diri sendiri; gangguan tidur; nada suara tinggi; flight of ideas; menghilangkan bukti kekacauan pikiran; agitasi psikomotor di rumah, tempat kerja atau seksual; mulai melakukan aktivitas dengan resiko tinggi terhadap konsekuensi yang menyakitkan.
Ä Gangguan mood tampak oleh orang lain.
Ä Gangguan suasana perasaan tersebut bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau karena gangguan medis lain.
Episode depresif ditandai dengan gejala-gejala berikut :
Ä Karena sebab yang sama selama 2 minggu, dengan paling tidak terdapat gejala perasaan depresi atau ditandai dengan kehilangan kesenangan atau perhatian, setidaknya pada seseorang terdapat 5 atau lebih gejala berikut ini : Perasaan depresi/tertekan; penurunan perasaan senang dan minat pada hampir semua aktivitas; penurunan berat badan yang signifikan dan selera; hipersomnia atau insomnia; retardasi psikomotor atau agitasi; kehilangan energi atau kelemahan; penurunan daya konsentrasi; preokupasi dengan kematian atau bunuh diri, penderita memiliki rencana untuk bunuh diri atau telah melakukan bunuh diri tersebut.
Ä Gejala-gejala tersebut menyebabkan kerusakan dan distress.
Ä Gangguan suasana perasaan tersebut bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau karena gangguan medis lain.
Episode campuran ditandai dengan gejala-gejala berikut ini :
Ä Pada penderita harus terdapat kedua kriteria baik manic maupun depresi, dengan gejala depresi hanya terjadi selama 1 minggu.
Ä Gangguan mood mengakibatkan terjadinya gangguan fungsi sosial dan kerja.
Ä Gangguan suasana perasaan tersebut bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau karena gangguan medis lain.
F.    Pemeriksaan Fisik
Menggunakan Mental Status Examination (MSE) untuk mendiagnosis adanya gangguan bipolar. Status mental penderita tergantung pada keadaan depresi, hipomanic, manic, atau campuran, dengan variasi area MSE ditandai sesuai dengan fase tertentu dari penderita.
1.    Penampilan
Ä Periode depresi : Orang yang menunjukkan suatu periode depresi mungkin menunjukkan sedikit sampai tidak ada kontak mata. Pakaian mereka mungkin tidak terawat, kotor, berlubang, kumal, serta tidak cocok dengan ukuran badan. Bila seseorang kehilangan berat badan secara signifikan, ukuran pakaiannya tidak akan cocok. Kebersihan diri tercermin dari mood mereka yang rendah, yang ditunjukkan dengan badan yang kurus, tidak bercukur, dan tidak membersihkan diri. Pada wanita, kuku jari tangannya mungkin terdapat lapisan warna yang berbeda atau sebagian warna yang rusak pada kuku mereka, bahkan cenderung kotor juga pada tangannya. Rambut mereka juga tidak terurus. Bila orang ini bergerak, afek depresi jelas terlihat. Mereka bergerak dengan lambat dan sangat sedikit yang menunjukkan retardasi psikomotor. Mereka juga berbicara dengan suara yang pelan atau suara yang monoton.
Ä Episode hipomanic : Penderita ini sangat sibuk dan aktif. Mereka memiliki energi dan selalu kemana-mana. Mereka selalu berencana melakukan sesuatu, sebagian mengalami perubahan tingakat energi dan suasana hati (Keck, 2003).
Ä Episode manik : Pada banyak kasus, perilaku penderita dengan fase manic menunjukkan perilaku yang berlawanan dengan penderita dengan fase depresi. Penderita fase manic menunjukkan keadaan hiperaktif dan hipervigilasi. Mereka kurang istirahat, bertenaga, aktif, serta berbicara dan bertindak cepat. Pakaian mereka mencerminkan keadaan itu, dimana terlihat dikenakan dengan tergesa-gesa dan kacau. Pakaian mereka biasanya terlalu terang, penuh warna, serta mencolok. Mereka berdiri di keramaian dan menjadi menonjol karena pakaian mereka yang sering menarik perhatian.
2.    Afek atau Suasana Hati
Ä Episode depresi: Kesedihan mendominasi suasana hati seseorang dalam episode depresi. Penderita merasa sedih, tertekan, kehilangan, kosong dan terisolasi. “2 Hs” sering menyertai suasana hati penderita, tanpa pengahrapan dan semua terasa sia-sia.
Ä Episode hipomanic: Suasana hati penderita meningkat, meluas dan peka.
Ä Episode manic: Suasana hati penderita tampak menggembirakan, dan bahkan berlebihan. Euphoria. Penderita sangat mudah marah.
Ä Episode campuran: penderita menunjukkan gejala kedua episode (depresi dan manic) dalam suatu periode singkat (1 minggu atau kurang).
3.    Pikiran
Ä Episode Depresi: Penderita mempunyai pemikiran yang mencerminkan kesedihan mereka. Gagasan yang negatif, perhatian nihilistik, dan mereka mempunyai suatu istilah bahwa “ mereka bagaikan gelas yang separuh kosong”. Pemikiran mereka lebih berfokus tentang kematian dan tentang bunuh diri.
Ä Episode Hipomanik: Penderita mempunyai pemikiran yang optimis, berpikir ke depan dan mempunyai sikap yang positif.
Ä Episode Manik: Penderita mempunyai pemikiran yang sangat opimis dan luas. Percaya diri yang berlebihan. Mereka dapat dengan cepat membuat pemikiran/gagasan. Mereka merasa pemikiran mereka sangat aktif dan aktif.
Ä Episode Campuran: Penderita dapat berubah secara cepat antara depresi dan euforia dan meraka juga mudah marah.
4.    Persepsi
Ä Episode Depresi: Terdapat 2 format dari tipe depresi yang dijelaskan. Dengan psikotik dan tanpa psikotik. Dengan psikotik, penderita mempunyai khayalan dan halusinasi yang sesuai atau tidak dengan suasana hati. Penderita merasa telah berdosa, bersalah, dan merasakan penyesalan yang snagat dalam.
Ä Episode Hipomanic: Penderita tidak mengalami gangguan persepsi.
Ä Episode Manic: 3 dari 4 penderita dalam tahap ini mengalami halusinasi. Khayalan manic menunjukkan persepsi gengsi dan kemuliaan.
Ä Episode Campuran: Penderita menunjukkan khayalan dan halusinasi yang konsisten dengan depresi atau manic atau keduanya.
5.    Bunuh Diri
Ä Episode Depresi: Angka kejadian bunuh diri banyak terjadi pada penderita depresi. Mereka adalah individu yang mencoba dan berhasil dalam usaha bunuh diri.
Episode Hipomanic: Angka bunuh diri rendah.
Episode Manic: Angka bunuh diri rendah.
Episode Campuran: Pada tahap depresi pasien memiliki resiko untuk bunuh diri.
6.    Pembunuhan/Kekerasan
Ä Episode Depresi: Pembunuhan yang dilakukan oleh penderita biasanya diikuti dengan bunuh diri. Pada beberapa penderita depresi biasanya merasa dunia sudah tidak berguna lagi untuknya dan untuk orang terdekatnya/orang lain.
Ä Episode Hipomanic: Penderita menunjukkan sifat mudah marah dan agresif. Mereka dapat menjadi tidak sabar terhadap orang lain.
Ä Episode Manic: Penderita agresif. Mereka tidak memiliki sifat sabar atau toleransi dengan orang lain tidak ada. Mereka dapat menjadi sangat menuntut, kasar, sangat mudah marah. Pembunuhan terjadi jika penderita mempunyai suatu khayalan terhadap kesenangan penderita.
•Episode Campuran: Penderita dapat menjadi sangat agresif terutama dalam tahap manic.
7.    Pengertian Diri/Insight
Ä Episode Depresi: Depresi dapat mempengaruhi penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri. Penderita biasanya gagal dalam melakukan tindakan yang penting sebab mereka sangat jatuh dan menurun dalam mengenali diri mereka sendiri. Meraka memeiliki sedikit pengertian terhadap diri mereka sendiri.
Ä Episode Hipomanic: Biasanya penderita memiliki penegrtian yang baik mengenai diri mereka. Namun sangat luas. Mereka menilai diri mereka sangat produktif dan teliti, bukan sebagai hipomanic.
Ä Episode Manic: Dalam tahap ini pengertian diri/insight sangat lemah. Penderita tidak mempunyai pengertian yang jelas mengenai kebutuhan, rencana dan perilaku mereka.
Ä Episode Campuran: Pergeseran/perubahan dalam afek dapat merusak pengertian pasien tentang dirinya dan bertentangan dengan insight mereka.
8.    Kognitif
Kemunduran/kelemahan dalam orientasi dan daya ingat sangat jarang diamati pada pasien dengan gangguan afek bipolar kecuali mereka psikotik. Mereka mengetahui waktu dan temapt mereka berada.mereka dapat mengingat kejadian yang lampau dan terbaru. Pada beberapa kasus hipomanic dan kadang hipomanic, kemampuan penderita untuk mengingat informasi dapat sangat luas. Pada dpresi dan manic yang berat, penderita dapat mengalami kesulutan dalam berkonsentrasi dan memusatkan perhatiannya.
G.   Pemeriksaan Penunjang
Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdala dan hipokampus. Korteks prefrontal, amygdala dan hipokampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).
Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan lancer.
H.   Penatalaksanaan
1)    Penentuan Kegawat daruratan Penderita
Pengobatan dari gangguan bipolar secara langsung terkait pada fase dari episodenya, seperti depresi atau manic, dan derajat keparahan fase tersebut. Sebagai contoh, seseorang dengan depresi yang ekstrim dan menunjukkan perilaku bunuh diri memerlukan/mengindikasikan pengobatan rawat inap. Sebaliknya, seseorang dengan depresi moderat yang masih dapat bekerja, diobati sebagai pasien rawat jalan.
a.    Indikasi seseorang dengan gangguan bipolar untuk dirawat inap adalah sebagai berikut :
Ä Berbahaya untuk diri sendiri : Pasien yang terutama dengan episode depresif, dapat terlihat dengan resiko yang signifikan untuk bunuh diri. Percobaan bunuh diri yang serius dan ideasi spesifik dengan rencana menghilangkan bukti, memerlukan observasi yang ketat dan perlindungan pencegahan. Namun, bahaya bagi penderita bisa datang dari aspek lain dari penyakit, contohnya seorang penderita depresi yang tidak cukup makan beresiko kematian, sejalan dengan itu, penderita dengan manic yang ekstrim yang tidak mau tidur atau makan mungkin mengalami kelelahan yang hebat.
Ä Berbahaya bagi orang lain : Penderita gangguan bipolar dapat mengancam nyawa ornag lain, contohnya seorang penderita yang mengalami depresi yang berat meyakini bahwa dunia itu sangat suram/gelap, sehingga ia berencana untuk membunuh anaknya untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan dunia.
Ä Ketidakmampuan total dari fungsi : Adakalanya depresi yang dialami terlalu dalam, sehingga orang tidak dapat melakukan fungsinya sama sekali, meninggalkan orang seperti ini sendirian sanagt berbahaya dan tidak menyembuhkannya.
Ä Tidak dapat diarahkan sama sekali : Hal ini benar-benar terjadi selama episode manic. Dalam situasi ini, perilaku penderita sangat di luar batas, mereka menghancurkan karir dan berbahaya bagi orang di sekitarnya.
Ä Kondisi medis yang harus dimonitor : Contohnya penderita gangguan jiwa yang disertai gangguan jantung harus berada di lingkungan medi, dimana obat psikotropik dapat dimonitor dan diobservasi.
b. Rawat inap parsial atau program perawatan sehari
Secara umum, penderita ini memiliki gejala yang berat namun memiliki tingkat pengendalian dan lingkungan hidup yang stabil.
Contohnya, penderita dengan depresi berat yang berpikir akan bunuh diri tapi tidak berencana untuk melakukannya dan dapat memiliki tingkat motivasi yang tinggi bila diberi banyak dukungan interpersonal, terutama sepanjang hari dan dengan bantuan dan keterlibatan dari keluarga. Keluarga harus selalu berada di rumah setiap malamdan harus peduli terhadap penderita. Rawat inap parsial juga menjembatani untuk bisa segera kembali bekerja. Kembali secara langsung ke pekerjaan seringkali sulit bagi penderita dengan gejala yang berat, dan rawat inap parsial memberi dukungan dan hubungan interpersonal.
b.    Pengobatan rawat jalan memiliki 4 tujuan utama.
1.Lihat stresornya dan cari cara untuk menanganinya. Stres ini bisa berasal dari keluarga atau pekerjaan, namun bila terakumulasi, mereka mendorong penderita menjadi manic atau depresi. Hal ini merupakan bagian dari psikoterapi.
2.Memonitor dan mendukung pengobatan. Pengobatan membuat perubahan yang luar biasa. Kuncinya adalah mendapatkan keuntungan dan mencegah efek samping. Penderita memiliki rasa yang bertentangan dengan pengobatan mereka. Mereka mengetahui bahwa obat membantu dan mencegah mereka untuk dirawat inap, namun mereka juga menyangkal memerlukannya. Oleh karena itu, harus dibantu untuk mengarahkan perasaan mereka dan membantu mereka untuk mau melanjutkan pengobatan.
3.Membangun dan memelihara sekumpulan orang yang peduli. Hal ini merupakan satu dari banyak alasan bagi para praktisi setuju dengan ambivalensi penderita tentang pengobatan. Seiring perjalanan waktu, kekuatan sekumpulan orang yang peduli membantu mempertahnkan gejala penderita dalam keadaan minimum dan membantu penderita tinggal dan diterima di masyarakat.
4.Aspek yang melibatkan edukasi. Klinisi harus membantu edukasi bagi penderita dan keluarga tentang penyakit bipolar. Mereka harus sadar dan waspada terhadap bahaya penyalahgunaan zat, situasi yang mungkin memicu kekambuhan, dan peran pengobatan yang penting. Dukungan kelompok bagi penderita dan keluarga memiliki arti penting yang sangat luar biasa.
Keadaan kesehatan tubuh penderita gangguan bipolar juga harus diperhatikan oleh para praktisi, termasuk keadaan kardiovaskular, diabetes, masalah endokrin, infeksi, komplikasi sistem urinari, dan gangguan keseimbangan elektrolit.
2)    Terapi
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar, peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan bipolar. Neurotransmiter tersebut adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin. Kandidat gen yang berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, catechol-O-metiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT).
Tak berhenti sampai disitu, peneliti juga mempunyai tersangka baru yaitu gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis dan perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam mood. Gen yang mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat 3 penelitian yang mencari tahu hubungan antara BDNF dengan gangguan bipolar. Dan hasilnya, positif.
a. Terapi Farmakologi
Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang dialami penderita. Pilihan obat tergantung pada gejala yang tampak, seperti gejala psikotik, agitasi, agresi, dan gangguan tidur. Antipsikosis atipikal meningkat penggunaannya untuk kedua hal yaitu manic akut dan mood stabilization. Rentang yang luas dari antidepresan dan ECT digunakan untuk episode depresi akut (contoh, depresi berat) Selanjutnya, suatu medikasi lain dipilih untuk terapi pemeliharaan/ maintenance dan pencegahan.
Pengalaman klinik menunjukkan bahwa bila diterapi dengan obat mood stabilizer, penderita gangguan bipolar akan mengalami lebih sedikit periode manic dan depresi. Medikasi ini bekerja menstabilkan mood penderita sesuai namanya, juga menstabilakn manic dan depresi yang ekstrim. Antipsikosis atipikal kini juga sering digunakan untuk menstabilkan manic akut, bahkan untuk mengobati beberapa kasus depresi bipolar untuk menstabilkan mood, seperti ziprasidone, quetiapine, risperidone, aripiprazole and olanzapine. Berdasarkan konsensus yang sekarang, pengobatan yang paling efektif untuk manic akut adalah kombinasi dari generasi kedua antipsikosis dan medikasi mood stabilizing.
b. Terapi Non Farmakologi
1. Konsultasi
Suatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis selalu sesuai bila penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan medikasi.
2. Diet
Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), tidak ada diet khusus yang dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk tidak merubah asupan garam, karena peningkatan asupan garam membuat kadar litium serum menurun dan menurunkan efikasinya, sedangkan mengurangi asupan garam dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas.
3. Aktivitas
Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang reguler meupakan kunci untuk bertahan dari penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini berlebihan dengan peningkatan perspirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas litium.
4. Edukasi Penderita
Pengobatan penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi penderita awal dan lanjutan. Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita, namun juga melalui keluarga dan sistem disekitarnya. Lagipula, fakta menunjukkan peningkatan dari tujuan edukasi ini, tidak hanya meningkatkan ketahanan dan pengetahuan mereka tentang penyakit, namun juga kualitas hidupnya.
Ä Pertama, penjelasan biologis tentang penyakit harus jelas dan benar. Hal ini mengurangi perasaan bersalah dan mempromosikan pengobatan yang adekuat.
Ä Kedua, memberi informasi tentang bagaimana cara memonitor penyakit terkait apresiasi tanda awal, pemunculan kembali, dan gejala. Pengenalan terhadap adanya perubahan memudahkan langkah-langkah pencegahan yang baik.
Ä Kelompok pengobatan yang adekuat tinggal suatu bagian yang penting dari perawatan dan edukasi.
Ä Edukasi juga harus memperhatikan bahaya dari stresor. Membantu identifikasi individu dan bekerja dengan stresor yang ada menyediakan aspek kritis penderita dan kewaspadaan keluarga.
Ä Akhirnya, informasikan kepada penderita tentang kekambuhan dalam konteks gangguan.
Ä Cerita-cerita tentang individu membantu penderita dan keluarga, terutama cerita tentang individu dengan MDI dapat membantu penderita untuk berusaha menghadapi tantangan dari perspektif lain.
3)    Pencegahan
Gangguan bipolar harus diobati secara kontinu, tidak boleh putus. Bila putus, fase normal akan memendek sehingga kekambuhan semakin sering. Adanya fase normal pada gangguan bipolar sering mengakibatkan buruknya compliance untuk berobat karena dikira sudah sembuh. Oleh karena itu, edukasi sangat penting agar penderita dapat ditangani lebih dini.
Prevensi merupakan kunci dari terapi jangka panjang dari gangguan bipolar. Hal ini mencakup beberapa hal sebagai berikut :
                                              I.          Medikasi seperti litium bertindak sebagai mood stabilizers.Tetapi terdapat beberapa orang yang kurang memberi respon terhadap lithium di antaranya penderita dengan riwayat cedera kepala, mania derajat berat (dengan gejala psikotik), dan yang disertai dengan komorbid. Bila penggunaanya dihentikan tiba-tiba, penderita cepat mengalami relaps. Selain itu, indeks terapinya sempit dan perlu monitor ketat kadar lithium dalam darah. Gangguan ginjal menjadi kontraindikasi penggunaan lithium karena akan menghambat proses eliminasi sehingga menghasilkan kadar toksik. Di samping itu, pernah juga dilaporkan lithium dapat merusak ginjal bila digunakan dalam jangka lama. Karena keterbatasan itulah, penggunaan lithium mulai ditinggalkan.
                                            II.          Psikoedukasi dimulai dari penderita dan keluarga penderita. Keduanya harus memahami dan mengetahui pentingnya pengobatan adekuat dan tanda-tanda awal dari manic dan depresi, ini merupakan hal yang penting.
I.      Komplikasi
Komplikasi dari gangguan ini antara lain bunuh diri, pembunuhan, dan adiksi.
J.     Prognosa
Ä Penderita dengan BP I lebih buruk daripada penderita depresi berat. Dalam 2 tahun pertama setelah episode awal, 40 – 50 % penderita mengalami serangan manic lain.
Ä Hanya 50 – 60 % penderita BP I dapat dikontrol dengan litium terhadap gejalanya. Pada 7 % penderita, gejala tidak kembali/mengalami penyembuhan, 45 % penderita mengalami episode berulang, dan 40 % mengalami gangguan yang menetap.
Ä Seringkali perputaran episode depresif dan manic berhubungan dengan usia.
Ä Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk antara lain : Riwayat kerja yang buruk; penyalahgunaan alkohol; gambaran psikotik; gambaran depresif diantara episode manic dan depresi; adanya bukti keadaan depresif, jenis kelamin laki-laki.
Ä Indikator prognosis yang baik adalah sebagai berikut : fase manic (dalam durasi pendek); Onset terjadi pada usia yang lanjut; pemikiran untuk bunuh diri yang rendah; gambaran psikotik yang rendah; masalah kesehatan (organik) yang rendah.



Read More

Penatalaksanaan Delirium

DELIRIUM

1. PENGERTIAN
Delirium adalah suatu sindroma yang terdiri dari gangguan kesadaran dan kognitif dengan awitan akut dan fluktuatif (gejala membaik-memburuk silih berganti). Di mana terdapat gangguan kemampuan memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan konsentrasi; serta perubahan kognisi (gg daya ingat, disorientasi, gg berbahasa, judgment) dan persepsi (halusinasi), yang terjadi dalam durasi singkat, beberapa jam - hari - minggu.
a. Kategori : a. Delirium akibat kondisi medik umum (misalnya infeksi)
b. Delirium terinduksi zat (kokain, opioid, dll)
c. Delirium akibat etiologi ganda (trauma kapitis dan ggn ginjal)
d. Delirium tak tergolongkan (deprivasi tidur)
e. Delirium tak terinci

b. Etiologi :
1) Intracranial : epilepsi, trauma, infeksi, tumor, GPDO
2) Extracranial : ggn sistemik ( gg metab, gg ginjal,paru,jantung, hormon, sepsis, defisiensi vit B1,B12,as folatdll) dan intoxikasi atau withdrawal obat & toxin).

c. Kriteria Diagnosis ( durasi sakit bbrp hari – minggu )
a. Gangguan kesadaran (memusatkan, mempertahankan, mengalihkan perhatian) disebut kesadaran “berkabut”, menurun. Fluktuasi kesadaran (siang tenang, malam gelisah)
b. Gangguan fungsi kognitif :
1) disorientasi : waktu, tempat, terakhir terganggu thd orang
2) gangguan daya ingat (t.u. recent memories),gg memori/amnesia temporer
3) gangguan berbahasa
4) gangguan persepsi (ilusi atau halusinasi tersering visual)
c. Gangguan konsentrasi : perhatian mudah teralih
d. Gg pola tidur bangun : siang tenang, malam gelisah
e. Gg psikomotor : gelisah/agitasi, atau sub/stupor
f. Gg perasaan: marah, cemas,atau eforia/gembira berlebihan
g. Bisa sembuh sempurna, coma atau meninggal

2. TUJUAN
Mengembalikan status fisik, mental dan social penderita kepada keadaan sehat.

3. KEBIJAKAN
a. International Classification of Diseases ( ICD-10 ), WHO, New York, 1992.
b. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-TR, 4th ed., American Psychiatric Association, Washington DC, 2000.
c. Kaplan and Sadock, Synopsis of Psychiatry, 10th ed., Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2007

4. PROSEDUR
a. Pemeriksaan penunjang :
1) Laboratorium : DL, UL,LFT,RFT,elektrolit, Astrup, gula darah, Widal, LCS dll
2) Radiologi : Roentgen al. thorax, head; CT Scan, MRI
3) Lain : EKG, EEG, dll

b. Tata laksana
1) Atasi kausa & simptomatis : antibiotika, neurotropika, hormone dll
2) Perbaiki kondisi fisik (ABCD), perbaiki vital sign (infus, simptomatik dll)
3) Ruangan harus tenang, cahaya remang dan dijaga orang yang dikenal.
4) Psikoterapi : Bantu orientasi, bangkitkan insight /kesadaran diri
5) Farmakoterapi : drug of choice Injeksi Haloperidol 2-6 mg IM.
Bila perlu ulangi Inj.Haloperidol 2-6 mg IM, tiap 1 jam. Maximal 3 kali.
Lanjutkan dengan Tab.Haloperidol 5-40mg/hari, liquid /tablet(2-3x/hr)
Tab. Benzodiazepin : tab. Lorazepam 1-3 x 0,5-2mg/hr.
Boleh salah satu dari : risperidone 2 x 1-3 mg, clozapine 2-3 x 25-300mg, olanzapine 1x5-10mg , quetiapine 2x25-300mg, aripriprazole 1-3x5-30mg.
Hindari PHENOTHIAZINE(efek antikolinergik, hipotensi ortostatik )
HATI-HATI : Clozapine menyebabkan agranulositosis. Periksa lekosit darah tiap 1-2 minggu sekali.
Awas : kontraindikasi pemberian Benzodiazepine pada intoksikasi alcohol,
asma bronkial dan kesadaran menurun.

c. Penyulit dan prognosis
Setelah 3-7 hari, mungkin 2 minggu, delirium sembuh sempurna. Ia mungkin mengalami amnesia temporer ( tak ingat saat ia mengalami delirium). Bila factor organic/etiologi berat dan keadaan fisik tak teratasi dengan baik, dapat meninggalkan sequele, bahkan pasien dapat meninggal.

5. UNIT TERKAIT
Sesuai bidang organic/fisik yang menjadi penyebab Delirium : ICU, ICCU, Interna, Pediatri, Bedah, Anestesi, Jantung, Saraf, Gilut, Mata, THT, Kulit, Obstetri-Ginekologi, Radiologi, Laboratorium Patologi Klinik, Patologi anatomi, Hiperbarik, dll.
Read More

Selasa, 07 Juni 2011

Materi Psikiatri Oleh dr. Marbun

PSIKIATRI

          Adalah ilmu yang mempelajari gejala penyakit jiwa
1.   
GANGGUAN JIWA
adalah suatu jenis gangguan yang memperlihatkan gejala klinik yang bermakna bisa berupa sindrom psikologi / sindrom prilaku yang menimbulkan penderitaan pada orang tersebut dan menyebabkan terganggu dalam menjalankan fungsi ( kerja, sosial dan penderitaan diri).
3 komponen dalam gangguan jiwa ;
1.    Adanya gejala klinik yang bermakna
2.    Menimbulkan penderitaan
3.    Menimbulkan gangguan fungsi
Komponen besar gejala ganggguan jiwa ;
1.    Gangguan fikiran
2.    Gangguan emosi dan fikiran
3.    Ganguan persepsi
4.    Gangguan motorik
5.    Gangguan bicara
6.    Gangguan inggatan
7.    Gangguan kesadaran

1)    Gangguan fikir di bagi 2 ;
a.    Gangguan arus fikiran
§  Fikiran melompat ; arus fikiran di mana fikirannnya cepat beralih, ddari topik lain (masih bisa di mengerti ) , - berbicara cepat,- banyak gagasan/ rencana yang kelihatanya sangat cemerlang tapi tidak realistis
§  Fikiran melompat ; (though reterdatium).
Arus fikirannya dimana fikirannya lambat .ex pasien deptesi berat
§  Fikiran terhalang (thought blowingt )
Gangguan arus fikiran tiba- tiba terhenti. Saat berbicara terhenti dan bleng, saat berbicara lagi lain materi lagi
§  Perseverasi
Gangguan arus fikiran ditanya, di jawab berulang- ulang pada pertanyaan terdahulu
§  Verbigerisi
Mengulang kata- kata yang sama tapi tidak ada yang hubungan dengan apa yang di tanyakan
§  Inkoherensi
Gangguanarus fikiran dimana tidak ada asosiasi (tidak dapat mengerti,ngaco), tidak nyambung

b.    Gangguan isi fikiran

Jenis – jenis ;

1.    Obsesi
Suatu isi fikiran/ ide yang mendesak ke dalam lapangan pemikiranyang berulang- ulang dan berad adi luarkemauan yang sangkutan
-        Obsesi diri biasanya mendorong untuk melkukan tindakan tertentu ( inpuls obsesi )
-        Kompulsi ; ex tidur . di dalam fikiran “ pintu belum di kunci” akibatnya gelisah dan timbul dorongan untuk mengecek pintu > jika tidak di lakukan pengecekan akan mengakibatkan ketegangan
Belum tentu gangguan jiwa, tapi biasanya sulit mengambil keputusan.

2.    Preokupasi
Gangguan isi fikiran dimana fikirannya dalam waktu lama dan terpusat pada suatu fokus objek tertentu ( bisa di alihkan ). Ex nanya. Tapi tidak di jawab (pada saat berpaparan) pada saat pertanyaan tidak di jawab akan terus kefikiran, tapi masih bisa di alihkan dengan yang lain.
3.    Waham(ilusi)
satu keyakinan yang salah tapi yang di percaya sebagai suatu kebenaran, tidak bisa di goyahkan dan tidak sesuai latarbelakang yang bersangkutan
Jenis ;
1.    Waham curiga
a.    Waham Kejaran ; jenis waham dimana yang bersangkutan yakin ada orang yang bermaksud jahat sama dia
b.    Waham Cemburu ; tanpa ada alasan yang jelas menuduh pacarnya/ pasangan tidak setia( selingkuh) tanpa suatu alasan yang jelas
c.     Waham di tuduh ; suatu perasaan seseoang ynag menganggap orang- orang menuduh dia, padahal tidak ada bukti
2.    Waham kebesaran
Merasan dirinya mempunyai keistimewaa tertentu (kemampuan, posisi ) yang tidak sesuai kenyataan. Ex merasa jadi pesiden
3.    Waham cinta
Pada waham ini yang bersangktan merasa di cintai oleh orang tertentu  padahal tidak ada hubungan sama sekali. Dia akan melakukan hal yang aneh- aneh. Ex cinta pada artis, surat cinta di kirim, ingin bertemu
4.    Waham nihiristik
Waham di mana merasa dirinya tidak ada dan bahwa hidupnya tidak berarti ( tidak merasa bereksistensi )
5.    Waham di kendalikan
Waham ini dimana oran yang bersangkutan merasa fikiran- fkiran dan tindakannya di kendalikan kekuatan luar
6.    Waham dosa
Waham ini dimana orang yang bersangkutan merasa melakukan dosa besar dan tidak dapat di ampuni
§  Thought insertion
Waham ini dimana merasa fikiranya di masukan kekuatgan luar
§  Thought withdrowl
Waham ini dimana merasa fikirfannya di sedot atau di tarik oleh kekuatan luar
§  Thought breadasting
Waham ini dimana merasa fikiran- fikiran dalam dirinya di siarkan oleh kekuatan luar
Ø Komponen waham ;
o   Keyakinan yang salah
o   Tidak bisa di goyahkan
o   Tidak sesuai dengan kenyataan

2.    GANGGUAN PERSEPSI

1.    Ilusi 
Suatu persepsi yang salah terhadap suatu stimulus yang benar- benar ada. Ex melihat wajah seolah- olah serfam ( berubah )
2.    Halusinasi
Suatu keadaan dimana ada persepsi tanpa ada stimulus
a.    Halusinasi pemdengaran
Orang yang bersangkutan mendengar bunyi- bunyi tapi tidak ada apa- apa( tidak ada sumber suara )
b.    Halusinasi pebnglihatan
Melihat objek tertentu tappi sebenarnya tidak ada. Ex bayangna orang, hewan
c.     Halusinasi penciuman
Mencium bau tertentu tapi sebenarnya tidak ada
d.    Halusunasi taktik ( haptif )
Merasa ada yang menjalar di kulitnya tapi tidak ada paa- apa
e.    Halusinasi  somatik
Ada sesuatu yang terjadi dalam tubuh ( tumor, dll ) padahal tidak ada



1.    GANGGUAN KESADARAN

1.    Clouding of consciosaese
Dimana ambang kesadaran meningkat, sehingga persepsi/ rangsang menimbulkan persepsi yang baik menjadi tidak dapat menimbulkan persepsi yang baik
2.    Dremy state ( kesadaran bermimpi)
Gangguan kesadaran  di mana terjadi penurunan kesadaran yang sebenarnya cukup ringan tetapi di sertai dengan disorentasi dan halusinasi.
Ex. dapat berkelana ke tempat- tempat jauh tanpa dia sadari apa yang di lakukannya namun masih bisa mengurus dirinya
3.    Cofusional state ( bingung )
Gangguan kesadaran yang ciri utamanya adalah disorientasidi sertai oleh kebingungan dan gangguan arus fikir.
Ex. Jika kita bericara engan orang- orang kesadaran ini, dia akan terlihat bingung sekali dalam menjawab pertanyaaan

4.    Delirium
Gangguan kesadaran yang gejala utamanya adalah kegelisahan motorik ( bisa teriak- teriak, berontak, banyak gerak ) disertai oleh disorentasi gangguan arus fikir, ilusi dan halusinasi
5.    Somnolen
Gangguan kesadaran dimana penurunan kesadaran sampai seperti orang tertidur tapi masih memberikan respon kalau di kasih rangsangan yang cukup kuat dan berulang- ulang
6.    Sopor
Gangguan kesadaran dimana terjadi penurunan kesadaran berat sampai tingkat tinggi kesadaran koma tapi masih memberikan respon dengan rangsangan yang cukup kuat ( nyeri )
7.    Koma
Penurunan kesadaran yang paling berat, dimana rangsangan apapun idak bisa akan menimbulkan respon

2.    GANGGUAN PERHATIAN

1.    Distraktibilitas
Gangguan perhatian dimana orang yang bersangkutan tidak mampu mempertahankan perhatian. Ex diajak berbicara
2.    Inatte
Gangguan perhatian diman aorang yang bersangkutan sama sekali mempertahankan kematian


3.    GANGGUAN ORIENTASI

1.    Disorientasi waktu ; bersangkutan tidak mampu menjelaskan waktu.
Ex ini tahun berapa ?jawabnya 1998
2.    Disorientasi personal ; tidak mempunyai kemampuan untuk mengenal orang.
Ex ibu ayah tidak kenal
3.    Disorientasi tempat ; ketik mampuamn menjelaskan tempat.
Ex kamu dimana?jawabnya Di rumah padahal ada di rumah sakit

4.    GANGGUAN INGATAN

1.    Amnesia ( hilang ingatan)
a.    Amnesia psikogenik ; di sebabkan konfli- komflik batin
-        Katathynic
Jenis amnesia di sebabkan adanya konflik yang bermuatan komplek emosi tinggi yang hendak di tekan ke bawah alam sadar ( bersifat safial, sebagian tidak menyeluruh).
Ex gadis hamil diluar nikah, bisa upa kehamilannya\
-        Histerical
Amnesia yang di timbulkan oleh rasa takut yang luar biasa atau rasa malu dan biasanya bersifat total (menyeluruh ).
 Ex dialami pasien yang mengalami peristiwa yang luar biasa, perempuan yang di rampok, di perkosa timbul histeria 
b.    Amnesia organik; di sebabkan penyakit organik
-        Retrigrade amnesia
Timbul pada peristiwa trauma kepala, amnesia
-        Antegrade amnesia
Amnesia dimana yang bersangkutan lupa hal-hal yang terjadi sesuudah petistiwa.
Ex kecelakaa, yang dialami sebelum lupa
2.    Dysmnesia ( penyimpangan ingatan )
a.    Kontabalasi
Suatu pennyimpangan ingatan dimana kekosongan ingatan pada yang bersangkutan di isi oleh ingatan-ingatan yang baru yang dikarang oleh orang yang bersangkutan tidak benar.
Ex orang berperang
b.    Degafu
Suatu penyimpangan ingatan dimana dia merasa seolah- olah sudah pernah berada di suatu tempat atau melihat suatu tempat tapi belum pernah kesana / melihat

5.    GANGGUAN EMOSI

1.    Afek
Ekspresi eksternal dari emosi yang terlihat di wajah
a.    Afek tumpul
Efek dimana ekspresi (afektif ) terbatas
b.    Afek datar
Sama sekali tidak ada ekspresi
c.     Inaprofriate afek ( afek tidak serasi )
Gangguan afek dimana ekspresi afektif atau wajah berbda- beda dengan ide atau fikiran.
Ex cerita sedih, dia gembira

2.    Mood
Kondisi internal emosi
a.    Euforia
Kondisi mood yang berisi kegembiraan dan kebahagiaan yang tidak sesuai kenyaataan
b.    Defresi
Kondisi mood yang berisi perasaan sedih, tertekan, tidak bergairah yang bersifat patologi


6.    GANGGUAN BICARA

1.    Gagap
Ganggguan bicara dimana bicara terputus- putus olrh karena pengulangan kata- kata, biasanya karena orang itu ingin menyampaikan banyak ide dalam waktu sangat terbatas sehingga pembicaraannnya terputus, bisa di mulai anak usia 4 tahun. Pada sebagian kasus menghilang pada masa dewasa, ada sampai dewasa
2.    Mutisma
Gangguan bicara orang sama sekali tidak mau bicara .Salah satu yang termasuk mutisma ; mutisma selektif ; dia hanya mau bicara sama orang tertentu tetapi tidak mau bicara sama yang lainnya
3.    Neologisma
Satu gangguan dimana yang bersangkutan menciptakan kata- kata baru, kata- kata itu tidak ada dalam kamus atau bahasa sehari- hari.
 Ex datang ke dokter, dia berbicara dengan kata- kata baru
4.    Word salad
Terjadi pencampuradukan bahasa sehari- hari sehingga tidak ada pengartian

7.    GANGGUAN MOTORIK

1.    Retardasi psikomotorik
Suatu gangguan dimana terjadi penurunan gerak moorik secara kuantitas, gerakan menjadi lambat. Ex pada pasien defresi berat
2.    Stufor katatonik
Terjadi penurunan gerak motorik yang sangat hebat bahkan bisa sampai pasien tidak bergerak sama sekali
3.    Agitasi psikomotorik
Suatu gangguan terjadi peningkatan aktivitas motorik sangat hebat yang berada di luar kesadaran orang bersangkutan, menimbulkan kegaduhan.
4.    Katalepsi
Gangguan motorik dimana orang yang bersangkutan mempertahankan posisis tubuh tertentu secara kaku dan tidak bisa di robah
5.    Fleksibilitas serea
Gangguan motori dimana orang yang bersangkutan memertahankan posisi tubuh tertentu tapi di buatkan atau di berikan pada orang yang bersangkutan
6.    Stereotipi
Gangguan mitorik yang terjadi berulang- ulang yang tidak bertujuan

                                                                                                                       
                                                                                                              28- 04 –‘11
SKIZOFRENIA

Suatu gangguan jiwa yang berat yang ditandai oleh gangguan proses berfikir , gangguan persepsi gangguan emosi dan gangguan prilaku.
Untuk menentukan apakah seseorang itu menderita gangguan skizofrenia ada kriteria diagnostik yang harus dipenuhi :
      I.          Harus ada sedikitnya suatu gejala berikut ini yang amat jelas. Biasa nya ada 2 gejala atau lebih bila gejala tersebut kurang jelas
A.   Thought insertion
Waham ini dimana merasa fikiranya di masukan kekuatgan luar
·       Thought withdrowl
Waham ini dimana merasa fikirfannya di sedot atau di tarik oleh kekuatan luar
·       Thought breadasting
Waham ini dimana merasa fikiran- fikiran dalam dirinya di siarkan oleh kekuatan luar
·       Thought echo
Fikiran menggema dalam otak nya
B.   Waham dikendalikan
·       Waham di pengaruhi
·       Waham pasif ( dimana dirinya tidak berdaya pasrah terhadap kekuatan luar )

C.   Halusinasi pendengaran
Beberapa suara memberi komentar secara terus menerus/ suara yang membicarakan prilaku pasien/salah satu suara bagian tubuh )
D.   Waham menetap lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan mustahil. Ex. mampu mengendalikan cuaca

    II.          Atau paling sedikit 2 gejala di bawah ini yang harus ada secara jelas ;
a.    Halusinasi yang menetap dari panca indra apa saja. Apabila disertai baik / waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk kandung efektif yang jelas.
b.    Arus fikiran yang terputus / yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi / pembicaraan yang tidak relevan/ neologis men
c.     Prilaku katatonik
Ex. keadaan gaduh, gelisah, posisi tubuh tertentu / fleksibelitas serea
d.    Gejala-gejala negatif
Ex. Sikap sangat apatis bicara jarang dan respon emosional yang menumpul / tidak wajar biasa nya mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tiadak disebabkan oleh depresi / obat psikotropik
  III.          Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu 1 bulan/ lebih

 IV.          Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek prilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tidak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri dan penarikan diri secara sosial.

Ø Beberapa jenis-jenis skizofrenia ;
1.    Skizofrenia paranoid ( isi fikiran)
Kriteria diagnostik ;
-        Memenuhi kriteria umum diagnostik skizofrenia dan sebagai tambahan adanya halusinasi dan atau waham yang menonjol
-        Halusinasi tersebut berupa suara-suara yang mengancam pasien/ memberi perintah/ suara tanpa bentuk ex. Bunyi fluit / bunyi tawa
-        Halusinasi pembauan / pengecapan/ bersifat seksual
Waham dapat berupa waham apa saja tetapi yang paling khas ialah waham dikendalikan, waham dipengaruhi, waham pasif atau waham kejaran
Gangguan afektif dorongan kehendak serta gejala katatonik tidak menonjol

2.    Skizofrenia hebrefrenik
Kriteria diagnostik ;
-        Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
-        Diagnosis hebefrenia untukpertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja / dewasa muda ( onset 15-25 tahun )
-        Kepribadian premorgil menunjukan ciri pemalu dan senang menyendiri.
-        Untuk diagnosis s. hebrefenia yang menyakitkan diperlukan pengamatan continue selama 2/3 bulan untuk memestikan bahwa gambaran yang khas berikut ini benar-benar bertahan:
a.    Prilaku yang tidak bertanggung jawabdan tidak dapat diramalkan. Ada kecendrungan untuk selalu menyendiri dengan prilaku menunjukan tidak ada nya tujuan dan perasaan nya hampa.
b.    Afek pasien dangkal dan tidak wajar/ tidak serasi.sering disertai oleh cekikikan/ perasaan puas sendiri, senyum sendiri, tertawa menyeringai dan kata-kata yang diulang-ulang
c.     Proses fikir mengalami disorganisasi, pembicaraan tak menentu dan inkoheren.


   V.          Gangguan afektif dan dorongan kehendak serta gangguan proses fikir umumnya menonjol, halusinasi dan waham mungkin ada tapi tidak menonjol. Dorongan kehendak yang bertujuan ditinggalkan sehingga prilaku penderita memperlihatkan ciri khas yaitu prilaku tanpa tujuan, adanya suatu preukopasi yang dangkal dan dibuat-buat terhadap agama , pilsafat dan tema abstrak lainnya makin mempersukar orang memahami jalan fikiran pasien.

3.    Skizofrenia katatonik
Kriteria diagnostik ;
-        Memnuhi kriteria umum
-        Satu atau lebih dari prilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
a.    Sutupov ( amat berkurang nya respon terhadap lingkungan dan amatnya gerakan aktifitas spontan )
Multisme ( tidak bicara )
b.    Gaduh gelisah ( tampak peningkatan aktivitas motorik yang tidak bertujuan yang tidak di pengaruhi stimulus eksternal )
c.     Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela ) mengambil dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang aneh
d.    Negatifisme ( tampak jelas perlawanan yang tidak termotif terhadap semua perintah / upaya untuk menggerakan kearah yang berlawanan)
e.    Rigiditas ( mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya menggerakan dirinya )
f.      Fleksibilitas area ( mempertahankan anggota gerak dalam posisi dapat dibentuk dari luar )
g.    Gejala-gejala lain. Ex. Kepatuhan secar otomatis terhadap perintah dan pengulangan kata-kata / kalimat

4.    Skizofrenia tak terinci ( tidak bisa digolongkan kemana-mana 1,2,3,4.,5.. )
Kriteria diagnostik ;
-        Memenuhi kriteria umum untuk diagnostik skizofrenia
-        Tidak memenuhi kriteria untuk diagnostik skizofrenia paranoid, herbetronik/ katatonik
-        Tidak memenuhi kriteria untuk s. residual/ depresi pasca skizofrenia
-         
5.    Depresi pasca skizofrenia
Kriteria diagnostik
Diagnostik harus ditegakkan hanya kalau:
a.    Pasien telah menderita skizofrenia selama 12 bulan terakhir
b.    Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada tetapi tidak lagi mendominasi gambaran klinis nya
c.     Gejala-gejala depresi menonjol dan memenuhi kriteria episode depresif dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu.

6.    Skizofrenia. residual ( kurang bicara, kurang bergerak, waham yang menonjol )
Kriteria diagnostik harus memenuhi
a.    Gejala (-) dari skizofrenia yang menonjol ex.dari skizofrenia yang menonjol ex. Perlambatan psikomotorik, aktivitas menurun afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas data isi pembicaraan, komunikasi non verbal yang buruk ex. Ekspresi muka, kontak mata, modula suara, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk.
b.    Sedikitnya ada riwayat satu episode skitkotik yang jelas di masa lampau yang memenuhi kriteria diagnostik skezofrenia
c.     Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu 1 tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata ex. Waham dan halusinasi telah sangat berkurang dan telah timbul syndrom (-) dari skizofrenia
d.    Tidak terdapat dimensial / gangguan otak organik lain/ depresi kronis yang dapat menjelaskan disabilitas (-) tersebut.



7.    S. simpleks     
Diagnosis s.simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dari gejala (-) yang khas dari gejala s.residual tanpa di dahului riwayat halusinasi waham manifestasi lain dari episode psikotik. Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya di banding skizofrenialainnya.

12 mei 2011

GANGGUAN SKIZOFRENIA
          Adalah terdapatnya atau adanya skizofrenia dan gejala gangguan afektif sama-sama menonjol pada saatnya bersamaan atau dalam beberapa hari dalam satu yang sesatu lain. Tetapi masih dala satu episode penykit yang sama.
Diagnostik ini tidak ditegakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berdeda.



GANGGUAN WAHAM
Kriteria diagnostik:
1.    Waham merupakan satu-satunya ciri yang khas atau gejala yang paling mencolok, waham tersebut harus sudahh ada sedikitnya 3 bulan lamanya.
2.    Gejala-gejala depresif mungkioin saja terjadi secara intermiten, dengan syarat bahwa waham tersebut menetap pada saat tidak terdapat gangguan afektif ini.
3.    Tidak boleh ada bukti tentang adanya penyakit otak
4.    Tidak ada  halusinasi pendengaran atau hanya kadang-kadang saja ada dan bersifat sementara.

GANGGUAN PSIKOTIK AKUT DAN SEMENTARA
Kriteria diagnostik:
1.    Konsep yang akut dimana dalam waktu 2 minggu atau kurang,gejala-gejala psikotik menjadi nyata dan menganggu sedikitnya beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
2.    Adanya gejala-gejala yang khas yaitu beraneka ragam dan berubah dengan cepat
3.    Bisa didahului oleh penyebab tertentu tetapi bisa juga tanpa penyebab tertentu.

GANGGUAN MOOD /SUASANA HATI
Kelainana fundamental dari kelompok ini ialah perubahan suasana hati biasanya kearah depresi atau kearah relasi.
1.    Mania tanpa gejal psikotik
Kriteriadiagnostik:
§  Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya satu minggu dan  cukup berat sehingga mengganggu seluruh atau hampir seluruh pekerjaan atau aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
§  Perubahan mood harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga aktivitas berlebihan,percepatan dan kebanyakan bicara,kebutuhan tidur yang berkurang, ide-ide kebesaran dan terlalu optimis.
2.    Mania dengan gejala psikotik
Kriteria diagnosa:
§  Ide-ide kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran dan kecurigaan berkembang menjadi waham kejaran.
3.    Episode depresi
§  Gejala utama  pada episode depresi ialah: mood yang depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, kekuraga energi yang menyebabkan rasa mudah lelah dan menurunnya aktivitas.
§  Gejala lainnya: konsentrasi berkurang, kepercayaan diri berkurang, rasa bersalah dan rasa tidak berguna, pandanagn masa depan yang suram dan pesimis, pikiran-pikiran untuk membahayakan diri atau bunuh diri, tidur kebanyaka atau sedikit, nafsu makan bisa berkurang atau sebliknya bisa meningkat.
3.1. episode depresi ringan
     Kriteria diagnosa:
-        Sekurang-kurangnya harus ada dari gejala utama seperti diatas
-        Ditambah sekurang-kurangnya 2 gejala lainnya
-        Berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu
-        Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukan.
3.2. episode depresi sedang
Kriteia diagnostik:
-        Sekurang-kurangnya harus ada 2 gejala utama
-        Ditambah sekurang-kurangnya 3/4 dari gejala lainnya
-        Berlangsung paling sedikit 2 minggu
-        Menghadapi kesulitan nyata untuk melakukan pekerjaan, kegiatan sosial dan rumah tangga.



3.3. episode depresi berat
v Tanpa gejala psikotik
Kriteria diagnostik:
-        Harus ada 3 gejala utama depresi
-        Ditambah sekurang-kurangnya 4 gejala lainnya
-        Paling sedikit berlangsung 2 minggu, akan tetapi jika gejala sangat berat diagnosa dapat ditegakan walaupun gejala kurang dari 2 minggu.
-        Pasien sama seklai tidak mampu menjjalankan pekerjaan, kegiatan sosial dan urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
v Terdapat gejala psikotik
Kriteria diagnostik:
-        Ditambah dengan waham, halusinasi dan stupor depresi. Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu, halusinasi pendengaran biasanya terdenagr seperti suara menghina.

GANGGGUAN AFEKTIF BIPOLAR
              Gangguan ini pada waktu tertentu bisa terjadi peningkatan afek disertai penambhan energi dan aktivitas sementara pada waktu lain terjadi penurunan afek disertai pengurangan energi dan akivitas, biasanya didahului oleh episode manik yang berlangsung antara 2 minggu sampai 5 bulan kemudian berganti dengan episode depresi yang berlangsung sekitar 6 bulan. Diantar 2 episode manik dan depresi biasanya ada penyembuhan sempurna.



Gangguan afektif bipolar hipomanik
Kriteria diagnosa:
-        Memnuhi kriteria hipomania
-        Pada masa lalu ada sekurang-kurangnya satu episode manik aatu depresi
Gangguan ini ada gejala psikotik dan tanpa gejala psikotik .
Gangguan afektif bipolar dengan gejala berat tanpa gejala psikotik, kriteria diagnosanya ialah:
-        Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi berat
-        Harus ada sekurang-kurangnya satu episode hipomanik atau maik di masa lalu.

v PSIKOTROPIK
PSIKOTROPIK
materi perkuliahan dr. Marbun

PSIKOTROPIK
Apa psikotropik itu?
Psikotropik adalah obat yang mempengaruhi pikiran,perasaan,dan perilaku

Ada 4 kelompok besar :
1.  Anti psikosis
a.      Chlorpromielin :
Efek yang meliputi efek pada susunan saraf system pusat system otonom dan system endokrin. Pada susunan syaraf pusat chlorpromielin menimbulkan efek sedasi yang di sertai sikap acuh tak acuh terhadap rangsang dari lingkungan .Pada pemakaian lama tidak dapat mencegah timbulnya konpulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang oleh obat.Semua derivat fenotizin mempengaruhi ganglia basal sehingga sehingga menimbulkan gejala pankirsan di sebabkan rangsangan padachemorecepton trigger zone (CTZ),pada dosis berlebihan semua derivat fenotiazin dapat menyebabkan gejala ekstra pyramidal yang teruta yang terlihat ialah akatrisra,dan pasrkinson. Sedangkan syndrome Neorolepik Malignan jarang terjadi. Gejala yang bias timbul setelah pengobatan berbulan-bulan atu bertaun-taun adalah Tremor. Chlorpromiazin memiliki efek samping terhadap system reproduksi pada wanita dapat terjadi aminori ( tidat menstuasi) ,galaktosis ,peningkatan liibodo sedangkan pada lelaki dan peningkatan denyut nadi dan ginekomasi (buah dada membesar . Pada system kardiovaskular ,chlorpromazin dapat menyebabkan terjadinya hipotensi ortostatik dan peningkatan denyut nadi ,efek ini diperkirakan  karena efek otonom dari chlorpromazine.Kebanyakan anti psikosis diabsorsi sempurna di saluran pencernaan sebaian di antaranya mengalami  metabolisme. Chlorpromazin tersedia dalam bentuk tablet ,dengan dosis 25 mg x 100 mg .suntik dengan dosis 25 mg dalam 1 ml larutan.
>sering digunakan pada orang yang gaduh dan gelisah sebanyak 50 mg 1 ml
b.       Haloperidol
Pada susunan saraf pusat,haloperidol bersifat menenangkan dan menyebabkan tidur pada orang yang mengalami eksitasi .efek sedative haloperidol kurang kuat di bandingkan chlorpromazine ,pada saraf otonom ,efek haloperidol lebih lemah di bandingkan anti psikotik lai ,namun demikian haloperidol dapat menyebabkan pandangan kalbu. Pad system kardiovaskular,haloperidol menyebabkan hipotensi tetapi tidak sehebat akibat chlorpromazine. Haloperidol lebih sering menimbulkan gejala ekstra pyramidal,terutama pada pasien berusia muda , pengobatan secara Haloperidol harus di mulai dengan hati-hari ,pada ibu hamil Haloperidol tidak di berikan , obat nya dalam bentuk tablet dengan dosis 0,5:1,5; dan 5 mg ,dalam bentul larutan ada denan dosis 1ml/dan 5 ml indikasi nya chlorpromazine ,Haloperidol  adalah untuk pengobatan psikosis .

2.  Obat Apikal
a.      KLozapin
merupakan anti psikotik apical pertama dengan potensi yang kuat disebut anti apical kesa obat ini hamper hamper tidak menimbulkan efek ekstra pyramidal .Klozapin efektif untuk  pada pasien yang resisten pada obat lain ,pasien yang menunjukan gejala ekstra pyramidal yang berat oleh pemberian anti psikosis ,ini harus dipantau leokositnya setiap minggu , obat nya ada dalam bentuk tablet dengn dosis 25 mg dan 100 mg.
b.      Risperidone
indikasi risperidone ialah untuk terapi skizofrenia baik untuk gejala positif maupun gejala posirif maupun gejala negative, disamping itu juga untuk gangguan bipoker dan depresi berat yang di sertai psikosis . Efek samping yang dilaporkan untuk samnolen ,mual,muntah ,peningkatan BB dan gejala pyramidal, efek dari pyramidal lebih ringan dibanding anti psikosis, obatnya berbentuk tablet dengan dosis 1 mg, 2 mg, dan 3 mg, juga larutan dosis 50mg dalam 1ml.
c.       Olanzapin
Indikasi nya untuk mengobati skizofrenia dan juga digunakan sebagai anti mania.Meskipun stuktur nya mirip klozapin. Olanzapin tidak menyebabkan agranulositosis seperti klozapin efek samping yang sering dilaporkan ialah peningkatan BB, hiperglikemia, dan hiperlipidemi. Olanzapin tersedia dalam bentuk tablet dengan dosis 5 mg x 10 mg, juga tersedia dalam bentuk larutan untuk suntikan 10 mg.
3.  Anti depresan
4.  Anti mania
5.  Anti cemas
Read More